Select Menu

Combined Post

Mag Posts

Gambar tema oleh konradlew. Diberdayakan oleh Blogger.

Combined Posts 2

Mag Post 2

2 Column Post

Simple Post

Simple Post 2

New Carousel

Video Posts


Duduk terlalu lama di depan komputer dapat mengakibatkan masalah postur tubuh, bahkan berdampak pada kesehatan tubuh keseluruhan. Untuk menghindari terjadi masalah kesehatan, seorang pakar kesehatan, dr Helen Lee, DC, memberikan berbagai tips untuk memperbaiki postur tubuh Anda.

Dr Lee menjelaskan postur duduk yang buruk dapat menyebabkan kesehatan yang buruk juga. “Duduk dalam waktu yang lama, tahun demi tahun dapat membuat sirkulasi tubuh menurun, memperlambat metabolisme, ketidakseimbangan gula darah dan berpengaruh pada keseimbangan postur otot,” tutur dr Lee.

Seperti dikutip dari she knows, dr Lee memberikan pendekatan holistik untuk postur tubuh yang sehat.

1. Menaruh bantal kecil
Dr Lee menyarankan taruh bantal kecil di belakang punggung bawah Anda. Agar sekitar pinggang dan bokong dapat nyaman dan beristirahat.

2. Postur Tubuh
Memiliki kursi sebaik apapun jika cara duduk Anda salah maka tidak akan memperbaiki postur tubuh Anda. Hindari membungkuk, terlalu dekat dengan keyboard komputer dan menyilangkan kaki.

Berikut cara duduk yang tepat:

- Kedua kaki diletakkan lurus di lantai dengan lutut sedikit lebih tingi daripada pinggul atau bangku.

- Siku nyaman di samping atau diletakkan di sandaran kursi dan bahu tetap lurus rileks.

- Kepala memandang lurus ke depan

- Fokus pada pernapasan perut untuk meningkatkan oksigen ke tubuh. Pernapasan perut juga membuat tubuh tetap santai.

3. Banyak minum air
Dehidrasi dapat membuat Anda mudah lelah dan cara duduk cenderung merosot saat Anda kekurangan air dalam tubuh. Minumlah air putih, teh atau jus agar  terhindar dari dehidrasi.

4. Bergerak
Hindari duduk seharian di kursi. Bergeraklah secar teratur dengan bangun setiap 15 sampai 30 menit sekali untuk meregangkan otot. Anda juga bisa berjalan-jalan untuk meningkatkan energi.

Pekerja kantoran yang menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar komputer akan mengalami gangguan pada produkstivitas air mata, mirip dengan penyakit yang disebut mata kering.

Untuk mencegah hal tersebut para peneliti dari Jepang menciptakan protein MUC5AC, yang diklaim dapat membentuk lapisan lendir untuk menjaga kelembaban mata. Para peserta yang terlibat dalam penelitian ini hampir mendekati tanda-tanda yang dialami para penderita mata kering.

"Untuk memahami pasien yang mengalami 'ketegangan mata' - salah satu gejala utama penyakit mata kering - penting bagi dokter mata untuk memperhatikan manfaat dari MUC5AC," kata Dr Yuichi Uchino, seorang penulis dari studi ini.

Uchino sendiri adalah seorang dokter mata di School of Medicine di Universitas Keio, Tokyo. "Ketika kita menatap komputer, mata lebih sedikit berkedip dibandingkan dengan membaca buku," katanya kepada Reuters, Kamis (19/6/2014).

Para pekerja kantoran yang sering menatap layar monitor cenderung membuka kelopak mata mereka lebih lebar ketimbang saat melakukan tugas-tugas lain.

"Interval kedipan mata yang jarang dapat mempercepat penguapan air mata dan itu dapat menyebabkan penyakit mata kering," tambah Uchino.

Penyakit mata kering cukup berbahaya, dapat menyebabkan iritasi dan kerusakan pada permukaan mata, terutama kornea. Akan tetapi penyakit itu dapat ditangani dengan baik melalui obat tetes mata secara teratur.

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa sekitar 5 juta pria dan wanita di atas usia 50 tahun di Amerika Serikat menderita penyakit mata kering. Sementara di Jepang, puluhan juta orang dilaporkan mengalami beberapa gejala mata kering.

Hal itu sering dikaitkan dengan para pekerja kantoran yang terlalu lama berada di depan komputer.
Sebuah penelitian di Jerman menemukan bahwa duduk lama bisa berisiko kanker endometrium.

Dari sekian risiko penyakit yang pernah diteliti, satu yang tidak pernah kita bayangkan adalah duduk terlalu lama yang bisa menyebabkan kanker endometrium.

Kanker endometrium atau tumor ganas yang berasal dari dinding rahim ini muncul, kata para peneliti Jerman, setelah peneliti melihat 43 studi terkait duduk dan 700.000 kanker.

Yang mengejutkan, laman Everydayhealth, Kamis (19/6/2014) menuliskan, para ilmuwan tidak menemukan hubungan antara duduk dengan kanker payudara, ovarium, kanker prostat, kanker perut, kerongkongan dan kanker ginjal. Tapi kabar buruknya, ada hubungan yang konsisten antara duduk lama dan peningkatan risiko kanker usus besar dan kanker endometrium.

"Orang-orang yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk duduk di siang hari memiliki 24 persen peningkatan risiko terkena kanker usus besar dibandingkan dengan mereka yang beraktivitas lain. Risiko ini juga akan meningkat 54 persen bila seseorang menonton televisi di siang hari. Mungkin karena pemirsa cenderung mengonsumsi makanan ringan tidak sehat," kata penulis studi yang juga ahli di bidang epidemiologi di Universitas Regensburg Jerman, Daniela Schmid.

Sedangkan risiko kanker rahim, Daniela mengatakan, 32 persen terjadi pada perempuan yang menghabiskan sebagian besar waktunya duduk sepanjang hari. Dan risiko tersebut akan naik dua kali lipat atau 66 persen bila ia menonton televisi siang hari.

Parahnya, peneliti menuliskan, semakin lama seseorang duduk ditambah dua jam dari biasanya, dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker usus besar hingga 8 persen dan 10 persen peningkatan risiko kanker endometrium.

Di sisi lain, Direktur Pencegahan dan pengendalian Penyakit di Washington University Siteman Cancer Center di St Louis, Dr Graham Colditz mengaku setuju dengan temuan yang dipublikasikan 16 Juni dalam Journal of National Cancer Institute tersebut. Ia mengatakan, duduk lama dapat meningkatan gula darah sehingga dapat menimbulkan berbagai risiko penyakit.

"Bagi saya, duduk bukan hanya memengaruhi berat badan, tapi juga akan memperburuk risiko kanker endometrium," katanya.
mengonsumsi lemak jenuh seperti mentega tidak meningkatkan risiko penyakit jantung.

Mungkin Anda hanya mengenal lemak baik ada pada buah avokad atau ikan, sebuah terobosan baru yang dipublikasikan dalam Annals of Internal Medicine analisis yang menggabungkan hampir 80 studi menemukan bahwa mengonsumsi lemak jenuh seperti mentega tidak meningkatkan risiko penyakit jantung. Demikian dikutip dari Womenshealthmag, Senin (16/6/2014).

Para ahli sepakat, lemak jenuh justru dapat membantu meningkatkan kesehatan jantung. "Penderita penyakit kronis mungkin sering dikaitkan dengan konsumsi lemak jenuh. Tapi penelitian menunjukkan bagaimana mengonsumsi lemak yang benar dan cara pembakaran lemak yang tepat dapat menghindari Anda dari risiko penyakit jantung," tulis peneliti.

Para ahli menunjukkan bahwa 20 sampai 30 persen kalori harian Anda harus berasal dari lemak. Tidak lebih dari 10 persen dari lemak jenuh. Berdasarkan diet 1.800 kalori per hari, antara 40 dan 60 gram lemak harus dikonsumsi setiap hari.

Peneliti menambahkan, lemak jenuh tertentu dapat dimetabolisme oleh tubuh lebih cepat dari yang lain. Ini berarti lemak tidak disimpan sebagai timbunan lemak.